
Umat Islam sedang menyambut datangnya puasa Ramadhan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, mereka menyambut bulan suci itu dengan beragam cara, mulai dari sekadar mengirim SMS (layanan pesan singkat) permintaan maaf ke sejumlah kolega, hingga membentang spanduk dan poster yang berisi ucapan selamat atas datangnya bulan yang sarat berkah itu (syahr mubarak).
Bahkan, perempuan yang tak lazim menggunakan jilbab pun mengisi Ramadhan dengan busana yang membalut seluruh tubuh. Di mana-mana kita menyaksikan orang-orang memakai baju koko sehingga tampak lebih Islami dan religius. Tabung televisi yang semula mengandung pertunjukan dangkal makna tiba-tiba berubah dengan spiritualisme.
Layar kaca penuh dengan siraman rohani. Begitu juga dengan masjid-masjid serta mushala, semarak dengan kuliah tujuh menit (kultum) dari para ustad.
Suasana itu kian menebalkan kesan bahwa umat Islam sedang berada dalam "peristiwa spiritual" yang dahsyat. Tampaknya mereka sedang meresapi sebuah hadis yang menyebutkan, "Barangsiapa yang bersukacita dengan kehadiran bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan tubuh yang bersangkutan tersentuh api neraka" (man fariha bi dukhuli Ramadlan harrama Allah jasadahu `ala al-niyran). Bagi umat Islam, puasa yang wajib adalah puasa sepanjang bulan Ramadhan.
Secara etimologis, Ramadhan sendiri berarti 'terik, panas, terbakar'. Ini mengandung beberapa pengertian. Pertama, Ramadhan akan membakar dosa seseorang kepada Tuhan. Itu sebabnya, bulan Ramadhan disebut sebagai bulan ampunan (syahrul maghfirah). Nabi Muhammad bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan, dan saya menetapkannya sebagai salah satu sunahku. Maka barangsiapa yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan penuh, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya seperti seorang anak yang baru keluar dari rahim ibundanya."
Hadis lain menyebutkan bahwa minggu pertama bulan Ramadhan adalah minggu ampunan atas dosa-dosa. Tentu saja, dosa yang akan diampuni itu hanyalah dosa yang terkait antara dirinya dan Allah (hablun min Allah). Sedangkan dosa privat terhadap sesama manusia tidak bisa diampuni, kecuali terlebih dahulu meminta maaf kepada yang bersangkutan. Itulah sebabnya, ketika mau memasuki Ramadhan, SMS dan surat permintaan maaf itu banyak dilakukan umat Islam. Namun, penting ditekankan, dosa publik seperti korupsi bisa terampuni sekiranya sebuah sanksi hukum telah dijatuhkan untuk si koruptor tersebut. Menurut para ahli fikih Islam, tindakan korupsi tidak diampuni hanya dengan menjalankan ibadah puasa.
Kedua, Ramadhan juga membakar perut yang sedang berpuasa. Selama berpuasa umat Islam tak diperbolehkan makan dan minum serta melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan berpuasa, orang kaya yang tak pernah lapar ikut merasakan kelaparan yang senantiasa mendera hari demi hari orang miskin di luar Ramadhan. Karena itu, pada bulan Ramadhan umat Islam diperintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah yang diperuntukkan terutama buat kaum fakir dan miskin. Menurut Abu Hanifah, zakat fitrah tidak harus diberikan kepada sesama Muslim, tetapi bisa diberikan kepada orang-orang non-Muslim yang fakir dan miskin. Bahkan, Al-Mahdawi berpendapat bahwa dibolehkan bagi umat Islam untuk memberikan zakat kepada orang musyrik yang miskin. Inilah saya kira salah satu makna dari Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Ketiga, Ramadhan potensial membakar hawa nafsu duniawi orang yang berpuasa. Dengan demikian, orang yang menjalankan ibadah puasa bukan orang yang rakus dan tamak. Ia bisa menahan diri dari kecenderungan hedonistik. Sebab, kita semua mengerti bahwa makin tingginya angka korupsi dan penyelewengan di negeri ini bukan karena para pelakunya lapar dan miskin, melainkan karena rakus dan tamak. Para pejabat tinggi masih korupsi walau gajinya berpuluh juta rupiah.
Ramadhan mendidik kita untuk tidak terus memperturutkan keserakahan dan ketamakan. Orang bijak nan arif berkata, "Kekayaan bumi Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warganya, tetapi tak memadai untuk menuruti keinginan dan nafsu satu orang penghuninya."
Oleh : Mohammad Rafik
MAKNA PUASA
19.47
ismaa
Posted in
News
Langganan:
Komentar (Atom)
RSS Feed
Twitter


























